Jumat, 25 September 2009

LIMA PELAJARAN BERHARGA UNTUK KITA RENUNGI BERSAMA....

Ini lima buah Pelajaran Berharga, yang sangat bagus untuk kita, mari kita renungkan bersama

1. Pelajaran Penting ke-1

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir.

Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yang
menjadi petugas pembersih sekolah ?.

Saya yakin soal ini cuma "bercanda".

Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya... ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong.

Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau tidak. "Tentu Saja Dihitung!!" kata si Profesor. "Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!. Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas "hallo"!

Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".

2. Pelajaran Penting ke-2 , Penumpang yang Kehujanan Malam itu.

Pukul setengah dua belas malam, Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.

Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an!) khusus dikirim kerumahnya.

Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : "Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat... hingga wafatnya.

Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada
saat itu"

Tertanda
Ny. Nat King Cole.
Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA

3. Pelajaran penting ke-3 - Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani.

Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang
anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja.

Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya "Berapa ya,... harga satu ice cream sundae?" katanya. "50 sen..." balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya....

"Wah... Kalau ice cream yang biasa saja berapa?" katanya lagi.

Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak... dan pelayan ini mulai tidak sabar. "35 sen" kata si pelayan sambil uring-uringan.

Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. "Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja ya..." ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan.

Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu.

Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat... anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang "layak" ......

4. Pelajaran penting ke-4 - Penghalang di Jalan

Kita Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.

Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan. Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.

Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu.

Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti.

Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan.

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang.

Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu.

Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku".

Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar...katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter... ?" Rupanya si kecil sedikit salah pengertian.

Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah...bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya....

Bekerjalah seolah anda tidak memerlukan uang, Mencintailah seolah anda tidak pernah dikecewakan, dan Joget & nyanyilah seolah tidak ada yang nonton.

.... DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT
INDAHNYA BINTANG ... !


Sumber : Pramono 'Pakde' Dewo (dari milis tetangga sebelah)

=end=

Jumat, 18 September 2009

ZAHIR, EXPORT PROGRAM KE MANCANEGARA...

Sektor usaha kecil dan menengah juga merupakan pasar yang menggiurkan. Hal ini dibuktikan oleh sukses bisnis PT Zahir International, sebuah perusahaan yang bergerak dalam penyediaan perangkat lunak akuntansi. Fadil Fuad Basymeleh, chairman perusahaan itu, konsisten dan fokus melayani perusahaan-perusahaan dengan omzet tak lebih dari Rp 500 juta dan jumlah karyawan kurang dari 50 orang.

Bermain di sektor ini, produk Zahir ditawarkan seharga Rp l juta - Rp 15 juta. Namun begitu, pemasukan perusahaan itu mencapai miliar rupiah setiap tahunnya. (Tahun ini ditargetkan mencapai Rp 10 miliar.) Kini, sekitar 7.500 pelanggan loyal setia menunggu perangkat lunak terbaru keluaran Zahir.

Produk utama Zahir adalah Zahir Accounting. Versi 1.0-nya telah terbit sejak 1997 dan kini sudah tersedia versi 5.1 yang tentunya sudah semakin canggih. Software tersebut memiliki 62 fitur dengan beragam kegunaan. Antara lain: multi-currency, giro mundur, multi-warehouse, alokasi biaya impor, dan serial number.

Semua fitur itu sudah disesuaikan dengan kebutuhan utama UKM. Karena produk Zahir menyasar "pasar bawah", ciri utamanya adalah mudah digunakan. Karena itu, tagline mereka yang pada awalnya "Termudah Digunakan" kini diganti menjadi "Terbaik di Dunia yang Berbahasa Indonesia".

Berbeda dengan para kompetitor, perangkat lunak buatan Fadil tak menyasar para akuntan. Ia dikhususkan untuk para pemilik usaha. Dengan Zahir, angka-angka yang kerap rumit telah diolah menjadi laporan yang mudah dipahami dengan desain tampilan sederhana. Dengan begitu, sang pengusaha akan dimudahkan dalam pengambilan keputusan.

Menyadari sektor UKM beragam dalam kebutuhan dan daya beli, Zahir menjual produk dalam bentuk fitur. Perusahaan-perusahaan tak perlu membeli berdasarkan modul yang memuat keseluruhan fitur. Mereka bisa memilih sesuai kebutuhan.

Fadil mulai berbisnis sejak sangat muda. Lelaki kelahiran 1971 ini sempat belajar di Jurusan Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung. Tetapi, tampaknya dunia kuliah tak terlalu menarik minatnya. Ia memutuskan untuk menikah pada usia muda, di umur 21 tahun. Untuk menopang kehidupan keluarga, ia mulai berbisnis. Ia keluar dari ITB pada tahun ketiga.

Sebelum terjun ke dunia software, Fadil sempat berbisnis setting dan layout, percetakan, serta periklanan. Di bisnis percetakan, klien pertamanya adalah Sarung Cap Mangga Dua, sebuah perusahaan yang boleh dibilang besar.

Pada 1994, pengusaha muda yang memulai bisnisnya dari nol ini mendapat sokongan dana dari Sarana Jabar Ventura. Meski proposalnya sempat ditolak hingga lima kali, akhirnya Fadil mendapat modal Rp 50 juta. Berkat suntikan modal tersebut, bisnisnya terus berkembang. Pada 1997, ia mendapat sokongan kedua dari perusahaan modal ventura tersebut. Kali ini, nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Tetapi, krisis ekonomi 1997 datang menghantam.

Fadil memasuki masa-masa sulit. Di tengah segala masalah yang menimpa, ia disarankan menggunakan perangkat lunak akuntansi untuk memudahkan pembuatan laporan keuangan. Tetapi, daripada membeli yang mahal, Fadil kemudian memutuskan membuat sendiri. Kebetulan, lelaki itu memang hobi programming. Dari situlah kemudian lahir software Zahir.

Hingga kini, Fadil dan produk Zahir-nya telah berhasil meraih enam penghargaan (antara lain Best of the Best Winner pada Asia Pacific ICT Award Indonesia 2003 dan Technopreneur Award pada Juli 2008). Tantangan berikutnya adalah menggapai pasar mancanegara. Langkah ke sana sudah disiapkan dengan membuka kantor cabang di Malaysia. Selain itu, Zahir mulai rajin ikut pameran di luar negeri, termasuk di Eropa.

Dari sisi produk, Zahir Accounting kini tersedia dalam bahasa Indonesia, Inggris, Malaysia, dan juga Arab. Lalu, berniatkah Fadil memasuki pasar perusahaan besar yang lebih rumit? "Kami tak berkeinginan memasuki pasar menengah atas. Kami akan konsisten di UKM," ujar lelaki yang sudah gemar mengutak-atik program komputer sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Lombok ini.

—Parlindungan Sibuea (BusinessWeek Indonesia No.22, 13-20 Agustus 2008)

Rabu, 16 September 2009

Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana PENCARI Kerja..! (Ciputra)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian, melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya.

"Kita banyak menciptakan sarjana pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja, itu membuat masyarakat kita terbiasa makan gaji sehingga tidak mandiri dan kreatif," ujar Ciputra di hadapan peserta seminar "Entrepreneurship Inspiring Our Journey" yang digelar di SMA Kolese Kanisius, Jakarta, Sabtu (29/8).

Entrepreneur atau wirausahawan, kata pria yang akrab disapa Pak Ci' ini, adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran atau rongsokan menjadi emas. Dengan demikian, kata dia, negara selama ini hanya mencetak begitu banyak sarjana yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya, tetapi menjadikan mereka lulusan yang tidak kreatif.

"Malaysia punya lebih banyak wirausahawan daripada Indonesia, kini mereka lebih maju karena pendapatannya yang empat kali lebih besar dari Indonesia," ujar Pak Ci'.

Sarjana pencari kerja

Makin banyak entrepreneur, sejatinya semakin makmur suatu negara. Ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) David McClelland pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika minimal mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2 persen dari jumlah penduduk di negara tersebut.

Menurut Ir Antonius Tanan, Direktur Human Resources Development (HRD) Ciputra Group yang juga menangani Ciputra Entrepreneurship School (CES), bahwa pada 2007 lalu AS memiliki 11,5 persen wirausahawan di negaranya.

Sementara itu, Singapura memunyai 4,24 juta wirausahawan pada 2001 atau sekitar 2,1 persen. Namun, empat tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 7,2 persen, sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18 persen jumlah wirausahawan.

"Negara kita terlalu banyak memiliki perguruan tinggi dan terlalu banyak menghasilkan sarjana, tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan banyaknya lapangan kerja," tandas Antonius.

"Akhirnya kita hanya banyak melahirkan pengangguran terdidik, tahun 2008 kita punya 1,1 juta penganggur yang merupakan lulusan perguruan tinggi," ujarnya.

Data tahun 2005/2006, misalnya, lanjut Antonius, terdapat 323.902 lulusan perguruan tinggi yang lulus. Kemudian dalam waktu 6 bulan dari Agustus 2006 sampai Februari 2007, jumlah penganggur terdidik naik sebesar 66.578 orang.

"Generasi muda kita tidak memiliki kecakapan menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri karena mereka terbiasa berpikir untuk mencari kerja," ujar Antonius.

Senin, 07 September 2009

KARENA TIDAK DILATIH, MEREKA TIDAK JADI ENTREPRENEUR...!

Di masa tuanya, Ciputra, pelopor industri properti Indonesia, hendak mengabdikan waktu dan pikirannya untuk menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneur di kalangan muda. Sekolah yang didirikannya, dari sekolah dasar hingga menengah atas, kini mulai menekankan pendekatan kewirausahaan kepada para anak didik sejak dini.

Pada Universitas Ciputra di Surabaya bahkan dilekatkan moto "The School for Entrepreneurs". Pak Ci juga tengah bersiap mendirikan Ciputra Institute Entrepreneurship yang diharapkan menjadi resource center untuk pembelajaran kewirausahaan. Selain itu, ia telah menelurkan beberapa buku kecil untuk menyebarkan semangat berwiraswasta.

Lelaki yang memasuki usia 76 tahun ini mencemaskan kurangnya jumlah wirausahawan di Tanah Air. Ia meyakini paling tidak 10% orang Indonesia sebetulnya berbakat menjadi pengusaha dan mampu menciptakan lapangan kerja. Tetapi, karena mereka tidak tumbuh dalam iklim yang kondusif (pegawai atau profesional dianggap memiliki masa depan yang lebih aman, misalnya), hanya sedikit yang benar-benar menjadi pengusaha.

Mengutip ahli pendidikan kewirausahaan David McClelland, dalam salah satu bukunya Ciputra mengungkap setidaknya 2% dari rakyat sebuah negara harus menjadi entrepreneur agar bangsa tersebut dapat menikmati kemakmuran.

Belum lwaktu yg lalu, Andrianto Soekarnen dan Parlindungan Sibuea dari Business-Week Indonesia mewawancarai Ciputra di kantornya di bilangan Kuningan, Jakarta. Sebagaimana biasa, Pa Ci sangat antusias dan bersemangat berdiskusi soal kewirausahaan. Lelaki dengan sembilan cucu itu masih juga energik dan berpikiran tajam, buah dari terus bekerja hingga tua. Berikut ini petikan interviu tersebut.

Apa yang melandasi niat Pak Ci mendorong pengembangan kewirausahaan?

Untuk kemajuan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang, kita sangat membutuhkan penambahan jumlah entrepreneur. Berbagai riset dan studi telah membuktikan bahwa pertumbuhan jumlah wirausahawan memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi.

Apa saja kegiatan konkret yang Pak Ci lakukan untuk itu?

Pertama, saya mendirikan Universitas Ciputra yang memiliki tema utama entrepreneurship. Tujuan kami sangat jelas, yaitu creating world-class entrepreneurs melalui jalur pendidikan. Setiap mahasiswa dari jurusan apapun mendapat pembelajaran dan pelatihan kewirausahaan. Kami mengutamakan praktik lapangan. Yang kedua, kami sedang menyusun dan menguji coba sebuah pembelajaran entrepreneurship yang dapat dilaksanakan dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah umum pada sekolah-sekolah di lingkungan Grup Ciputra. Ketiga, kami tengah mempersiapkan dan mengkaji pendirian Ciputra Institute Entrepreneurship atau CIE. Ini adalah sebuah resource center untuk pembelajaran entrepreneurship bagi dunia pendidikan.

Yang kerap menjadi pertanyaan, apakah kewirausahaan bisa diajarkan? Atau, ia sebetulnya bakat bawaan?

Entrepreneurship bisa diajarkan bagi mereka yang mempunyai bakat. Kalau mereka lahir tanpa bakat, memang susah. Ini seperti menjadi penyanyi, perlu punya bakat. Masalahnya, di Indonesia, begitu banyak orang mempunyai bakat terbuang sia-sia karena tidak dididik dengan baik. Saya kira paling tidak ada 10% orang Indonesia yang berbakat menjadi entrepreneur. Tetapi, karena tak pernah dididik, dilatih, dan diberi kesempatan; mereka tidak berhasil menjadi entrepreneur.

Dapatkah kita mengenali orang berjiwa entrepreneur sejak kecil?

Ada kalanya sejak kecil sudah terlihat. Ada kalanya ketika dewasa baru terlihat. Bisa saja ketika sekolah di tingkat dasar ia seperti biasa-biasa saja. Tetapi, saat dirinya sekolah menengah, kemampuan entrepreneurship-nya muncul.

Menjadi pengusaha di Indonesia tidaklah mudah. Iklim bisnis tak banyak mendukung. Mendirikan perusahaan baru saja sulitnya bukan main.

Hambatan dalam pendirian perusahaan baru memang harus dihilangkan. Apabila hambatan-hambatan itu hilang, entrepreneur pemula akan lebih banyak yang mencoba masuk. Ini pasti akan meningkatkan jumlah entrepreneur Indonesia. Memang, sekarang ini sangat banyak hambatan. Tetapi, kita jangan putus asa. Kita harus terus berjuang untuk memajukan bangsa.

Apa saja problem utama kewirausahaan di Tanah Air?

Sedikitnya terdapat empat masalah. Pertama, informasi tentang profesi entrepreneur belum tersebar merata di tengah-tengah masyarakat. Kedua, wirausaha belum mendapat penghargaan yang layak sebagai sebuah profesi yang penting dan membanggakan. Ketiga, tidak banyak orangtua yang memperkenalkan, mempromosikan, dan melatih entrepreneurship kepada anak-anak mereka. Keempat, masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam sistem perundangan dan peraturan sehingga menghambat proses entrepreneurship. Lalu, ada pula sederet hambatan lain; yakni hambatan mental, moral, karakter, fisik, tradisi, dan hambatan yang kita ciptakan sendiri seperti birokrasi.

Apa contoh hambatan mental yang Anda maksud?

Sederhana saja. Kalau sejak kecil tidak ditanamkan bahwa menjadi entrepreneur adalah hebat, itu sudah jadi mental block tersendiri. Apalagi kalau dikatakan bahwa entrepreneur itu sama dengan penipu, mental block-nyaakan semakin berat. Kalau orangtua atau guru mengatakan jangan jadi pedagang, itu berbahaya. Kita tabu bahwa ungkapan seperti itu sangat umum di Indonesia. Lalu, seorang entrepreneur juga merupakan risk taker.

Kalau sejak kecil tidak dibiasakan untuk mengambil risiko, seseorang akan susah pada masa berikutnya. Contoh sederhana risk taking adalah berani berkomunikasi di depan orang. Ia mesti dilatih memecahkan masalah sendiri. Ia harus berani menjual. Di sekolah-sekolah kami, keberanian semacam itu dilatih. Untuk menjadi entrepreneur yang hebat perlu sebuah proses pembelajaran. Harus pula diingat bahwa seorang entrepreneur pada dasarnya adalah opportunity seeker. Dalam setiap masalah, ia selalu punya ide.

Inti entrepreneurship adalah ide. Anda kerap mengulang ungkapan ini.

Ya. Untuk menjadi entrepreneur, yang utama adalah ide dan inovasi. Uang akan menyusul. Saya selalu mengatakan, kalau kita punya ide brilian, uang akan datang. Saya membangun Jaya Group selama 45 tahun bermula dari tanpa uang. Dengan Metropolitan Group, selama 35 tahun, juga awalnya tanpa uang. Dengan Ciputra Group, kini sudah berjalan 25 tahun, juga semula tanpa uang.

Bagaimana kemudian caranya memperoleh kepercayaan orang-orang untuk membiayai ide Anda?

Anda tentu harus mempersiapkan diri dengan ide-ide cemerlang. Saya datang kepada Pak Marno (Soemarno Sosroatmodjo, ketika itu Gubernur DKI Jakarta). Saya katakan saya ingin membangun Kota Jakarta. Waktu itu saya baru tamat kuliah dari ITB. Saya mulai dengan proyek Senen. Saya langsung membuat studi. Untuk mengatasi kebutuhan uang, kami mengajak berbagai pihak, seperti Hasyim Ning, untuk berpartner.

Begitu pula dengan proyek Ancol. Saya datang ke Bang Ali (Ali Sadikin, Gubernur DKI waktu itu) untuk meyakinkan dia. Ia katakan, "Ayo, join dengan saya." Padahal, waktu itu saya tak punya uang. Tetapi, saya melihat opportunity. Mulanya kami membuka tempat rekreasi sederhana. Namanya Binaria.

Dari income di situ, kami mulai membangun sarana rekreasi, industri, dan perumahan. Begitu pula ketika saya membangun Metropolitan Group. Saya datang ke Om Liem (konglomerat Liem Sioe Liong). Saya ajak dia membangun Pondok Indah. Mulanya ia tak mau. Saya minta ia meminjamkan uang dan menawarkan join fifty-fifty. Dari hasil usaha, saya bayar utang itu.

Jadi, kalau Anda punya ide cemerlang, banyak investor akan datang. Awalnya Anda mampu membuat dua ekor kambing kecil menjadi lima ekor. Dengan modal kemampuan itu, Anda bisa datang ke bank untuk meminjam uang. Anda yakinkan mereka bahwa Anda bisa menjadikannya puluhan ekor. Setelah diberi pinjaman bank, Anda akhirnya bisa menernakkan kambing menjadi ribuan ekor.

Apakah semua orang punya akses seperti Anda, misalnya untuk bertemu Bang Ali atau Om Liem?

Semua orang bisa diakses. Tergantung kemampuan Anda. Yang menentukan berhasil atau tidaknya adalah Anda sendiri. Kalau Anda sendiri takut, tak percaya diri, tidak bersemangat, dan tak mau ambil risiko, ya susah. Hal ini berulang kali saya katakan kepada para mahasiswa.


Pramono 'Pakde' Dewo 30 Agustus, jam 23:21(Wawancara dg Pak Ciputra Dikutip dari BusinessWeek Indonesia, Januari 2007)